AKU BERSYUKUR MEMILIKI WAJAH INI

Dear Diary,
Hari Jumat 21 agustus 2015 aku pergi kepasar.
Dijalan menuju kepasar bokongku ditabrak motor dr belakang dan tiba2 kudengar suara ..gubraaakk...motor dan pengendaranya jatuh dijalan.
Karena sakit sambil menggosok2 bokongku aku menengok kebelakang.
Ternyata suara gubraak yg kudengar adalah suara motor yg menabrakku.
Niat mau marah langsung sirna melihat ibu2 pengendara motornya tergeletak dijalan.
Yah bagaimanapun aku manusia Pancasila yg berperikemanusiaan dan berperikeadilan. Sayangnya si ibu pengendara motor malah memakiku "kalau jalan lihat2 dong! Yg punya otak. Jalannya dipinggir!"
Merasa punya otak pintar tentu saja aku marah.
Sambil memelototkan mata sebesar2nya aku datangi si ibu sableng itu.
"Heh monyet. Ngomong pakai otak li ya! Gue jalan dipinggir, gue yg ditabrak kok malah elo yg marah? Lo gila ya? Lo baru bisa naik motor? Baru punya motor butut saja sdh sombong. Mikir ya kalau ngomong!"
Saat kudatangi si ibu itu cuma menunduk sambil mengelus2 tangannya yg berdarah. Orang2 dijalanpun ikut melerai sambil menyalahkan si ibu sableng itu.
Walaupun masih kesal, aku pun berlalu.

Barusan terjadi lagi Dear Diary.
Hari Minggu pagi2 aku ke Pemda Cibinong beli boneka besar untuk Dini, kembali dr belakang bokongku yg masih sakit ditabrak motor lagi.
Tak mau dimaki2 spt kemarin aku berteriak duluan sambil melotot  "hei, bisa bawa motor gak sih?!"
Pengendara motornya juga ibu2, tapi ini kayaknya ibu2 santun, dia cuma mengangguk2 minta maaf.

Dear Diary.
Dirumah, sambil ganti pakaian kutatap wajahku di cermin.
Aku tak pernah berani menatap tubuh bagian bawah sejak 6 bulan yll.
Dicermin kulihat wajah judes wanita paruh baya, berpipi montok dan berambut warna warni. Apa yg mereka lihat dr wajahku sehingga mereka langsung menghindar berkonfrontasi denganku?
Aku ingat sekali bahkan sejak dulu, kalau wajahku sdh "beku", istilah si semprul suamiku pertama, atau "dingin" menurut suamiku yg kedua,  maksudnya wajah yg datar tanpa ekspresi, membuat keringat dingin para suami mengucur dan  bertanya2, apa yang salah yg telah mereka lakukan.
Kata mereka kalau mataku melotot bahkan rasanya mereka ingin bersembunyi jauh2. Pantas kl mataku melotot suasana rumah langsung sepi.
Dikantor juga hal yg sama terjadi.
Sales2 dibawahku yg konon terkenal krn malesnya selangit dan mempunyai berjuta alasan kerap tak berkutik apabila aku sudah melotot apalagi sambil meninggikan suara. Effeknya bisa berhari2 terasa sesudah pelototan mata itu berlangsung. Suasana langsung tertib berdisiplin.
Aku masih bercermin lama sekali, sebab aku masih tak yakin apakah wajahku seseram itu kl sedang marah.
Aku tak tahu harus bahagia atau malah sedih mempunyai wajah menakutkan, yang kutahu aku bersyukur bisa punya wajah seperti ini, tanpa harus melayangkan pukulan, hanya dengan pelototan mataku sudah membuat orang takut.
Yah mungkin sudah nasibku Dear Diary.

Komentar

Postingan Populer