AKU BUKAN BIDADARI ANAKKU, AKU HANYA MANUSIA BIASA.....
Dear Diary;
Hari ini, senin 16 November 2015, aku rasanya telah menjadi ibu yang baik untuk anakku.
Pagi2 aku sudah kirim pulsa untuk si sulung, saking paginya, jam 7 pagi, tukang pulsanya malah baru bangun sambil kucek2 mata.
Si bungsu seperti biasa gadis malas lainnya baru bangun jam 9 pagi. Dia langsung tanya “gak masak lagi hari ini mam?”
Biasanya mantan adik iparku datang memasak untukku, namun sudah 4 hari ini seperti biasanya dia ngambek tanpa alasan sehingga tidak datang. Aku tidak mau menjanjikan yang tak pasti, sudah terlalu banyak kubuat janji yang tak pernah kutepati.
Aku bilang “ mamam ada sarden Botan, nanti mamam masakin ya?” Aku cari yang paling aman. Kalau masak ikan sarden kan tinggal dimasak sudah pasti enak.
“Atau sambel goreng kentang ya, pakai telor?” Ini juga keahlianku satu2nya selain goreng ikan asin yang sudah pasti bisa.
“Mamam cuma bisa itu ya? Aku kok pengen seblak atau dimsum ya mam. Enak kali dimakan saat udara panas seperti ini. Mamam bisa cari di Google resepnya.” Anakku mengusulkan.
Kuhitung dalam hati sampai 10, lalu kubaca ayat qursi agar amarahku menghilang.
“Mamam matanya gak jelas kalau lihat komputer apalagi HP, nanti malah salah resep. Kita makan diluar sajalah.” Sambil dalam hati kembali kuhitung isi ATM ku.
“Mamam kan suka nulis macam2 di FB, masak gak bisa lihat resep ?”
“Lho kamu kan suka kritik mamam suka salah ketik kalau nulis di FB, nah itu karena mamam matanya gak jelas. Sudahlah kita makan diluar saja, sekalian mamam mau buat pas photo buat data pensiun.” Aku langsung memutuskan.
Setelah semua data yang perlu diphoto copy siap, dari tukang photo copy diseberang rumah, kami langsung berangkat ke mall CCM.
Aku pilih angkot yang supirnya sudah tua, dengan harapan akan kalem bawa mobilnya.
Ternyata sepanjang sejarah perangkotan, supir kalem itu tidak ada betapapun tuanya.
Uang untuk bayar angkot yang sudah kusiapkan berlebih akhirnya kuambil kembali, aku membayar sesuai tarif yang berlaku.
Si bungsu memelototiku dan bilang “Pelit amat sih mam!”
“Biar saja, siapa suruh ngebut. Itu sudah 3 kali dia mau nabrak motor.”
Sesampainya di mall, aku langsung beli alat2 kecantikan, alasannya buat persiapan anakku kalau bekerja nanti, tapi tentu saja yang jadi modelnya aku.
Kupikir karena ini pas photo yang rencananya akan kupakai seumur hidup bila ternyata baik hasilnya, maka aku harus terlihat seperti wanita pada umumnya..
Sejujurnya sih aku ingin pakai make up di salon, tapi aku malas mendengar komentar pedas si bungsu.
Setelah wajahku tampak seperti wanita, aku buat pas photo di Papyrus studio.
Si bungsu memang punya bakat komentator judes, sepanjang jalan dia memberikan komentar gratis tentang gayaku di studio, tentang caraku yang hanya mau bertanya pada cowok yang ganteng saja dan tentang caraku memilih barang, seakan aku tak pernah baik dimatanya. Oke, aku memang bukan ibu idaman, aku tahu kok.
Buru2 kuajak dia ke counter Pierre Cardin.
Kubujuk dia agar memilih BH, jarang ada counter Pierre Cardin, mengingat Cibinong menurutku termasuk daerah pinggiran, bahkan di Bogor pun tidak ada counter Pierre Cardin. Itulah kenapa aku suka datang ke mall ini.
Merk2nya bukan merk murah, yang murah disana hanya resto2nya saja.
Sejak ada mall ini aku jarang datang ke mall Botani lagi, selain jauh dari rumah disana jarang ada yang bisa kubeli, semua rasanya hanya ukuran untuk orang langsing.
Dear Diary,
Ternyata si bungsu tetap mengkritikku, padahal BH mahal sudah kubelikan.
Kucoba ajak ke Yunma, resto dimsum langgananku.
Dia mengeluh bosan. Lho bukannya dia tadi ingin makan dimsum?
Karena resto pilihanku cuma ada 2 yang menunya aku suka, maka kami tetap makan dimsum.
Kupesan 1 bungkus dengan menu lengkap untuk anak angkatku.
Saat pulang, menjelang keluar dari pintu mall da bapak seusiaku yang mengedipkan mata.
Sumpah kupikir dia teman SMA ku, karena aku kan baru reuni kemarin, siapa tahu ada yang masih ingat aku.
Akupun mengangguk sopan sambil tersenyum. Si bungsu melotot melihatku. Dianggapnya aku genit.
Aku bilang “ itu bapak2 tadi ngedipin ibu van. Mungkin teman SMA ibu makanya dia ngedipin.”
“Ya Allah maaaammm.....jangan ge’er deh. Mamam bukan bidadari. Mana mungkin bapak2 itu ngedipin mamam, memangnya dia seputus asa itu apa ngedipin nenek2.
Itu banyak cewek2 muda genit2 deh, mending kan dia ngedipin cewek2 itu, gak mubazir.”
“Tapi siapa tahu itu teman SMA ibu van.”
“Kalau teman SMA kan dia pasti datangin mamam.”
Sepanjang jalan aku bengong sambil berputus asa.
Apakah yang salah didiriku sehingga si bungsu menganggapku genit?
Aku juga tahu diri, seperti apa tongkronganku kini.
Memangnya salahku kalau aku dikedipi bapak2 tua?
Disimpang jalan baru Sentul kulihat anak angkatku sedang tertawa2 dengan teman2nya bersender di jembatan. Ah syukurlah dia sudah mau pulang. Saat itu jam 13.30.
Sampai jam 15.05 anak angkatku belum juga pulang padahal hari sudah mulai rintik.
Aku khawatir dia kehujanan dan sakit. Akhirnya ku sms dia.
Dia bilang” masih di sekolah bu, lagi latihan nari, nanti Dini pulangnya sore.”
Hmmm....anak angkatku mulai berbohong, padahal aku paling tidak suka dibohongi.
Biarlah, aku tetap pura2 tidak tahu kalau aku lihat dia disimpang jalan.
Kuambil bungkus dimsum untuknya, kumakan dengan segenap rasa kecewa, dan marah.
“Lho itu kan dimsum nya Dini, kok dimakan mam?”
“Biarlah dia makan nugget atau ayam goreng, tinggal masak kok. Ibu gak suka dibohongi. Dia bilang disekolah nari, padahal kamu juga kan lihat dia lagi nongkrong di jembatan. Memangnya nari nya di jembatan?”
Si bungsu tidak menjawab apa2.
Dear Diary,
Begitulah kenapa kemungkinan berat badanku bertambah lagi hari ini.
Aku memang bukan bidadari makanya si bapak2 tua itu pasti bukan mengedipkan matanya padaku.
Aku cuma manusia biasa, yang tidak suka dibohongi, oleh siapapun, apalagi oleh anak angkatku.
Aku cuma manusia biasa dear diary...
Komentar
Posting Komentar