AKU DAN KERETA API


Dear Diary,
Kemarin setelah berbulan2 tidak kekantor, aku kembali ke kantor, di pojokan Jakarta Kota.
Persiapan kekantor untukku ternyata lebih heboh daripada persiapan saat kondangan. Aku ingin terlihat cantik seperti wanita pd umumnya, tidak terlihat memelas kr sdh tidak bekerja apalagi terlihat spt butuh bantuan. Amit2 jabang bayi kl sampai aku dianggap minta sumbangan oleh mereka2 yg aktif, spt stereo type yg diberikan kepada kaum pensiunan sepertiku selama ini.
Tapi betapapun aku berusaha maksimal mencoba semua baju kerja favouritku dulu, hasilnya tetap saja aku terlihat spt ibu2 paruh baya yg makmur, bukannya spt pegawai wanita berkelas.
Penegasannya datang dr adik iparku.
Mungkin dia gerah melihat aku bongkar isi lemari dan berjam2 mencoba semua baju tanpa ada yg muat.
Dia bilang "sudah pakai yg itu saja mbak, mbak Ida gak kelihatan gemuk  kok kan bajunya gombrang".
Yang dia tidak bilang bahwa dengan baju itu orang yg melihatnya tidak bakalan bisa menebak mana tanganku dan mana dada serta perutku.
Baiklah. Aku pakai baju ini.
Sebetulnya ini baju kesukaanku, pemberian sahabatku Savitri.
Tapi biasanya baju berlapis2 ini terlihat keren untuk jalan2 atau karaoke dan bukan untuk kekantor.
Karena putus asa dan capek, aku menyerah. Sudahlah sekali2 tampil beda, toh aku sudah pensiun.

Dear Diary,
Menuju stasiun kereta di Bogor sudah menjadi perjuangan yg tak ada habisnya. Turun dr angkot aku harus naik tangga penyebrangan yg agak curam dan meliuk2. Aku tahu kemampuan jantungku dan kakiku yg terkena radang sendi.
Aku pilih menyeberang jalan yg seharusnya tidak boleh dilakukan.
Kupikir ini Indonesia.
Peraturan ada memang untuk dilanggar.
Saat menyeberang jalan, betul saja ada polisi yg agak tua menyempritku, mendatangiku dan memarahiku.
Umurnya cukup tua utk ukuran polisi sehingga dia pasti merasa wajib dan berhak memarahi sesama orang tua.
Dia pikir sama2 tua kayaknya.
Dengan wajah memelas aku bilang "maaf pak, saya memang salah. Tapi saya gak akan kuat naik tangga setinggi itu, apalagi dg bawaan sebanyak ini." Sambil kutunjukkan kue2 yg kubawa utk oleh2 dikantor dan berkas2 yg akan kutaruh di Safe Deposit Box.
Sang polisi tua rupanya mengenali type ngeyel pd wajahku, sambil memberengut akhirnya aku diseberangkan, dan wanti2 " tolong bu agar tidak diulangi lagi. Ibu kan sudah tua, seharusnya jd contoh buat yg lebih muda." Aku tidak menjawab hanya bisa memprotes ketuaanku sehingga disepelekan polisi tua.

Dear Diary,
Naik kereta yg kosong kr bukan jam kantor membuatku leluasa memilih gerbong. Kutinggalkan rutinitas naik kereta 11 bulan yang lalu, dan sekarang kutemui fakta bahwa semua gerbong tidak ada yg dingin. Kutadahkan tanganku ke langit2 gerbong mencari sumber angin yg cukup dingin.
Sia2 saja.
Akhirnya terpaksa duduk di gerbong wanita. Seapes2nya aku bila tidak ada udara toh bau penumpang wanita tidak akan separah bau penumpang pria kalau2 mereka bau keringat. Aku was2 duduk dikereta menunggu udara panas menyekap dengan baju berlapis2ku. Untung aku sempat beli koran untuk adegan kipas mengipas.
Seperti biasa akhirnya kereta penuh, gerbong panas dan riuh rendah dengan suara anak kecil menangis tepat dihadapanku duduk. Saat ibunya memandang kearah lain, kucopot kaca mataku, kupelototi anak itu.
Anak itu langsung diam dan hanya sesenggukan.
Setiap anak kecil itu melihatku, kupelototi lagi. Aku tidak peduli ada yg memergokiku.
Yang penting tidak ada suara anak kecil menangis.
Walau sudah punya cucu aku tetap tidak suka lihat anak kecil cengeng menangis.
Akhirnya datanglah kedamaian di gerbongku walau panas menyekap.
Sudah pasti saat turun baju kerenku melekat dibadan membentuk tubuh tidak beraturanku.

Dear Diary,
2 jam penuh ngobrol dan dengarkan curhat temanku, Tiwi, dlm hati aku bersyukur.
Dengan usia tua, jabatanku yg tidak naik2, pengalamanku yg lama, serta keberanianku menyuarakan pendapat, aku tidak pernah dianggap sepele, krn aku akan langsung reaktif.
Aku nasehati temanku " say, di BNI itu cuma ada 2 pilihan, mengikuti arus jilat sana sini dan slalu menurut atasan walau atasan kadang salah, atau melawan arus dan menjadi diri sendiri dg akibat tidak disukai atasan. Atasan tidak selalu benar. Kadang anak buah malah lebih mengerti ttg aturan. Asal saat memberitahunya dg sopan krn atasanpun punya hati dan malu. Tapi sepengetahuan ibu sih biasanya atasan itu slalu benar. Jd kalau kamu mau melawan arus, kamu hrs siap mental."
Curhat temanku berlanjut dr A sampai Z.
Pikiranku menerawang mengingat kesalahan2ku pada Tiwi temanku ini.
Aku sering menegurnya, kadang dengan halus, kadang dengan ngotot.
Kusadari aku sayang dia makanya selalu ingin dia bertindak benar dan tidak dilecehkan pegawai lain.
Aku sering kesal dengan keluguannya, kadang dia dianggap sok kaya oleh anak2 baru yang seperti biasanya di BNI kerap tidak menghargai pegawai lama, padahal itu cuma gaya temanku bercerita.
Aku juga dulu pernah salah tanggap saat pertama mendengarkan caranya bercerita.
Tapi itu cuma gayanya, hatinya ternyata lurus2 saja.
Saat berpisah, aku minta maaf dg tulus atas semua omelan2ku dan perhatianku yg berlebih tentang make up nya, tentang bajunya atau tentang keluguannya yg menjengkelkan krn suka jadi bahan pelecehan orang lain.
Sayang aku tidak cukup lama di BNI utk melindunginya.

Dear Diary,
Saat pulang, dengan langkah lebih enteng kr tidak ada bawaan lagi, aku kembali menyusuri gerbong demi gerbong, mencari gerbong yg AC atau kipas anginnya hidup.
Sampai ujung gerbong suasana tetap panas, akupun mengalah.
Kubayangkan suasana pagi dan sore hari, pasti suasana gerbong ini lebih panas.
Tidak bisa kubayangkan seperti apa rasanya, karena gerbong setengah terisi spt saat inipun membuatku basah kuyup.
Siapa bilang KAI sudah menjadi lebih baik?
WC dan mushola distasiun memang lebih baik.
Lebih bersih. Tapi memangnya kita akan ke WC berjam2?
Kenyamanan dan ketepatan waktu kereta lah yang lebih penting.
Sekarang di stasiun tidak ada lagi pedagang2 liar yg kurang ajar mengacungkan masker kemuka penumpang agar membelinya seolah2 berpenyakit menular.
Tapi adakah yg sadar keberpihakan pihak KAI kpd merk2 besar alih2 kepada pedagang kecil?
Di stasiun kulihat toko yg ada adalah toko2 franchise besar dg merk2 terkenal.
Kebersihan stasiun memang patut dipuji, tapi tidak untuk yang lainnya, terutama AC.
Aku salut untuk ketahanan mental pengguna kereta api atas ketidak nyamanan gerbong.
Padahal biaya kereta sudah naik, tapi kenyamanan malah turun.
KAI tidak menghargai pelanggannya, terutama manula dan yg cacat. Seolah2 KAI berkata " KERETA API HANYA UNTUK YG SEHAT. MANULA DAN ORG CACAT TIDAK PERLU NAIK KERETA API"
Di kereta memang disiapkan tempat duduk untuk manula, ibu hamil dan membawa anak2 serta yg cacat. Tapi akses menuju stasiun, di beberapa stasiun, tidak memungkinkan manula dan org cacat menuju stasiun dg tangga2 yg nyaris 90 derajat kemiringannya. Memangnya manula dan org cacat harus duduk manis dirumah sampai mati?
KAI...kapankah kau berubah?

Komentar

Postingan Populer