JANGAN JADI GURU, ANAKKU..

Dear Diary
Selama era Jokowi ini aku selalu mendengat tentang nasib guru honorer.
Banyak cerita tentang dedikasi guru dipedalaman yang hanya bergaji kecil tapi tetap mengajar dengan penuh semangat, bahkan ada yang hanya digaji rp. 50 ribu sebulan.
Aku bisa mengerti apa artinya semangat mengajar, berdasarkan pengalamanku yang secuil.
Saat itu dikantorku selama berbulan bulan sedang diadakan massive training, untuk menggalakkan budaya melayani bagi petugas frontliner.
Aku kebagian mengajar di bagian Satpam setelah dibujuk2 pak Agus Kusbrijantono.
Jujur saja aku belum pernah mendapat pelatihan mengajar seperti teman2ku lainnya.
Pelatihan mengajar buatku hal yang sangat diawang2.
Pelatihan mengajar bahkan  hanya diberikan kepada asisten2 yang mempunyai kedekatan dengan unit SDM di wilayahku, sementara aku yang sudah pengelola malah tidak pernah diberikan.
Jadi betapapun selama ini aku meminta agar diberikan pelatihan Training for Trainer, aku tidak pernah mendapatkannya.
Jadilah saat pelatihan massive training itu aku hanya berbekal materi dan kepercayaan diri.
Ternyata memang nikmat mengajar apabila mengajar dengan hati.
Aku ingin satpam2 yang kuajar menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi, itu  niatku. Tidak muluk2.
Rasanya bahagia melihat satpam yang pernah kuajarkan sehari dua hari berubah sikap menjadi lebih baik apalagi sampai mendapat penghargaan.
Kupikir satpampun manusia, mempunyai intelegensi yang tinggi, hanya nasib saja yang membuat mereka melamar jadi satpam dan bukannya melamar pegawai lain.

Dear Diary,
Bila awal mengajar aku agak gemetar memasuki ruangan penuh laki2 beringas dan kerap dianggap kasar, seterusnya aku tak pernah lagi gemetaran saat berbicara didepan audience.
“Yang penting tunjukkan bahwa elo pengajar, ada peraturan yang harus ditaati didalam kelas”
Itu pesan pak Agus Kusbrijantono pemimpin bagianku.”Kedudukan lo lebih tinggi, karenanya otomatis lo lebih menguasai ilmu layanan.” Sambungnya.
Yang pak Agus lupa sampaikan adalah bahwa Satpam2 itu berpengalaman dilapangan, sementara aku tidak.
Apa yang ditemui dilapangan berbeda di teori yang kupegang.
Jadilah aku awal2nya menjadi bulan2an pertanyaan para satpam.
Banyak yang bertanya dengan sopan, tapi ada pula yg bertanya dengan penuh amarah.
Anehnya aku mengerti kenapa pertanyaan2 amarah itu ditujukan kepadaku.
Mereka tidak marah kepadaku, tapi pada keadaan, kebetulan saja aku mewakili institusi.
Ada pesan dari temanku pak Dikrun tentang tips2 mengajar, katanya “ anggap mereka anak2 kita Rit. Jangan anggap mereka sebagai satpam.”
Nasehat itu sangat berguna untukku.
Jadilah selama aku mengajar aku selalu menganggap mereka anak2ku, walau kadang mendapat pertanyaan nyeleneh dan emosi aku tetap menganggap mereka anak2ku, anak2 yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.
Ada rasa kehilangan saat acara pelajaran berakhir.
Rasanya ada sesuatu yang hilang.
Menurut pak Dikrun aku salah, karena terlalu terbawa perasaan.
Siapa yang tidak terenyuh bila mendengar keluhan2 mereka saat berada dilapangan?
Aku mengajar dengan hati, aku mendengarkan juga dengan  hati.
Karenanya aku bisa mengerti bila guru2 berdedikasi itu rela mengajar dengan imbalan minim, ya, karena mereka mengajar dengan hati.
Sampai saat ini masih banyak satpam atau mantan satpam yang masih berhubungan denganku, curhat tentang segalanya.
Mereka cuma ingin didengarkan, dan kebetulan aku mau mendengarkan.

Dear Diary,
Saat menikah dengan Lilik dulu, kadang sekolahnya kekurangan guru.
Aku kadang menggantikan tugas guru, hanya membagi2kan kertas ulangan saja sih biasanya, serta mengawasinya.
Lilik  yang begitu melindungiku kalang kabut mencari guru pengganti.
Dia sangat tidak ingin aku dibully oleh murid2 sekolahnya yang terkenal nakal2.
Tapi setidaknya pengalaman itu membuat mentalku bertambah kuat, walau dalam hati aku tetap kadang ingin mencekik anak2 kurang ajar itu satu demi satu.
Saat Lilik menjelaskan bahwa mereka umumnya anak2 tidak mampu  yang tidak diterima disekolah negeri akupun baru maklum, malah berganti iba.
Hanya saat mobilku digores2 dengan sengaja oleh anak2 itu baru aku singkirkan rasa iba.

Dear Diary,
Aku suka melawan arus, makanya aku mengidolakan bu safni sementara bu Safni tidak disukai murid2 lain, selain galak juga tanpa senyum.
Buatku tanpa senyum itu tidak apa, aku toh biasa tidak diberi senyum ditumahku, yang utama adalah aku bisa mengerti maksudnya saat dia mengajar.
Yang lebih menambah rasa sukaku pada bu Safni adalah bila masa ulangan tiba.
Aku kerap diberi tugas memeriksa kertas ulangan teman2ku dikelas lain, biasanya kelas IPA sementara aku kan IPS.
Bu Safni cerdik kurasa.
Bisa saja dia minta tolong murid2 lain, yang pintar bahasa Inggris toh bukan cuma aku disekolah itu, tapi dia memilihku, karena dia tahu aku tidak kenal nama2 murid disekolah itu biarpun aku memeriksanya, karena aku anak baru pindahan, dan kebetulan ingatanku tentang nama dan wajah sangat terbatas.
Dia tahu keterbatasan ingatanku tentang nama, karena aku seringkali lupa namanya. Aku ingat saat itu kutulis dibukuku, dihalaman pertama, “nama guru bahasa inggris : bu Safni Jadib”
Saat dia berdiri disebelahku, kebetulan aku baru buka buku, dia tanya kenapa ada tulisan itu.
Aku dengan bodohnya menjawab “biar saya ingat bu. Saya selalu lupa nama orang dan kadang2 wajahnya juga.”
Jadilah aku menjadi pemeriksa kertas ulangan bu Safni.
Ada untungnya juga buatku menjadi pemeriksa ulangannya.
Saat ada cowok ganteng selangit yang ku gandrungi, anak IPA, tapi saat kuperiksa nilai ulangannya, ternyata, ya Tuhan, dia tidak bisa membedakan kata kerja, semua nilainya sangat sangat jelek, kekagumanku pun berganti, langsung sirna tak berbekas. Padahal sempat aku berminggu2 membayangkan hidung mancung dan bibir merah ranumnya menciumku.
Untunglah aku menemukan fakta bahwa si ganteng itu tidak pandai, rasanya aku tak bisa membayangkan bila kelak pacarku menulis surat cinta untukku  dengan tulisan “ I lop you Rita, I alwais lop you”.

Dear Diary,
Guru juga ada yang  nyebelin kok.
Ada satu guru yang lebih menyerupai monster buatku saat aku masih sekolah di SMA 8 Bukit Duri, namanya bu Mariana pengajar bahasa inggris juga.
Aku kerap dipermalukan oleh bu Mariana. Bukan karena aku tidak bisa bahasa inggris atau tidak mengerjakan PR, tapi lebih ke fisik.
Aku kerap mengenakan rok mini.
Ya, seragamku memang selalu pendek.
Tapi bukan karena aku mengikuti mode, saat itu lagi nusim rok mini memang, itu karena tubuhku bertambah tinggi dengan cepat.
Maklumlah, sebagai keluarga miskin ibu membelikan baju seragam tidak setiap tahun, selama masih bisa dipakai, tidak akan mungkin dibelikan yang baru.
Rok seragamku masih bagus, warnanya masih gelap belum bule, karenanya ibuku tidak akan membelikan yang baru.
Anehnya bu Mariana selalu menunjukku untuk menulis didepan kelas untuk mengerjakan soal.
Setiap dia lihat rok miniku, dia yang selalu bersenjatakan gunting, selalu membuka keliman rok ku sehingga jadi lebih panjang. Diidepan kelas !
Memangnya semudah itu?
Tentu saja keliman dibawah rok yang dibuka akan berwarna lebih gelap, kelihatan sekali kalau rok ku hasil up date rok lama.
Biasanya diam2 aku akan mengembalikan seperti semula, bu Mariana pun akan menurunkannya lagi.
Begitu selalu, seperti Tom and Jerry.
Walaupun bu Mariana tidak mengajar dikelasku, tapi apabila bertemu denganku dilorong guru, tak ayal dia langsung menyeretku ke ruang guru dan memanjangkan rok ku lagi.
Gara2 bu Mariana aku kerap duduk di ruang BP yang pengap, mendengarkan nasehat berulang, “jangan pakai rok mini”.
Puluhan tahun kemudian, dari teman FB ku yang sama2 mantan murid SMA 8 Bukit Duri, aku baru tahu kalau bu Mariana benci akut pada murid wanita yang berkulit putih dan memakai rok mini, karena seumur hidupnya bu Mariana tidak akan bisa mengenakan rok mini karena kulitnya hitam legam dan betisnya hitam bergurat2.
Entah betul atau tidak, aku berusaha menganggap rumor itu betul, biar lega mendengarnya.
Gara2 bu Mariana aku jadi benci bahasa Inggris, untungnya aku diajar bu Safni jadib saat pindah sekolah ke SMAN Cibinong
Itulah peran penting seorang guru menurutku.
Guru bisa membuat murid menyukai pelajaran atau malah membencinya.
Tidak adil bila seorang guru karena keterbatasan fisiknya membenci muridnya.

Dear Diary,
Karena si semprul  suamiku itu guru, maaf, maksudku mantan suamiku, aku selalu menganggap guru manusia diatas manusia. Sudah dibayar, beramal pula.
Siapa bilang jadi guru itu mudah?
Aku kerap hampir 2 minggu sekali mengurut betis suamiku karena betisnya sering pegal dan kaku.
Jadwalnya mengajar dalam sehari kadang sampai 10 jam sehari, pagi sampai sore.
Si semprul itu guru yang berdedikasi menurutku.
Sering dia menggantikan guru yang tidak hadir tanpa hitung2an.
Dia juga giat mencari bapak asuh untuk murid2nya yg tidak mampu.
Pernah saat jalan2 ke mall dengan suamiku kadang kami bertemu dengan mantan muridnya yang menjadi SPG atau menjadi pegawai, jarang ada yg kuliah, karena anak2 SMK itu memang sedari awal berniat untuk langsung bisa bekerja dna yah seperti kubilang tadi, disekolah SMK si semprul muridnya banyak orang tak punya.
Pernah saat kami pergi ke Roxy ingin beli HP baru, suamiku bertemu dengan mantan murid kesayangannya, dekil dan sedang berjualan minuman.
Dia bilang dengan berjualan minuman dia bisa sambil mengawasi adik2nya sekolah karena orang tua mereka sudah meninggal.
Kalau dia kerja diperusahaan dia tidak akan bisa mengawasi adik2nya, karena terikat waktu.
Dengan ramah mantan muridnya menawari minuman yang langsung ditolak suamiku dengan alasan sedang buru2.
Sepulangnya sampai rumah kudapati suamiku menangis terisak2 disudut kamar, menangisi nasib malang muridnya.
Dia merasa gagal sebagai guru.
Itulah beban guru bila bertemu murid yang bernasib malang.
Kurasa bukan cuma suamiku yang bersikap dan merasakan seperti itu, mungkin semua guru.
Suamiku contoh klasik guru sejati dengan sikap ambivalennya.
Sebagai kepala sekolah sekaligus pemilik yayasan, suamiku seharusnya bisa menggratiskan anak tidak mampu yang bersekolah disekolahnya.
Entah karena tidak ingin merugikan sekolah atau entah apa, suamiku kerap membujukku agar mau mencarikan donatur atau orang tua angkat untuk membiayai beberapa murid.
Buatku tidak menjadi masalah, aku meminjam nama temanku dan menjadi donatur, kuanggap saja ajang penebusan dosa, tapi dibalik itu tetap saja aku merasa aneh dengan pilihan sikap suamiku.
Bila tak ada guru, atau ada guru yang berhalangan, biasanya dimusim penghujan, suamiku dengan sigap menggantikannya.
Bila kutanya kompensasi mengajarnya dia akan menjawab dengan sikap acuh tak acuh bahwa dia mengajar untuk amal dan tidak mau hitung2an dalam jam pelajaran.
Sak karepmulah, aku menjawab tak peduli. Mengajar memang ladang amal, aku sangat mengerti maksudnya.

Kini bagai mendapat hukum karma, anakku si bungsu ingin menjadi guru bila telah selesai kuliah di FH Unpad jurusan hukum internasional Dear Diary.
Katanya dia tersentuh dan menangis saat dengar lagu hymne Guru.
Lagu itu memang menyentuh, aku juga tersentuh, tapi itu tidak membuatku langsung ingin jadi guru
Dia bilang dia selalu ingin mengajar anak2 kecil.
“Maksudnya Vani mau jadi guru SD?”
“Iya mam, aku ingin jadi guru tapi guru anak2 kecil.”
“Kalau Vani suka anak kecil kenapa Vani gak kawin saja? Vani kan bisa punya anak2 kecil. Pasti lucu2 kayak Daru.” Aku membujuknya. Yang tidak tersirat dan terucap adalah “jangan jadi guru Van, terlalu berat”
Anakku menjawab sambil mendelik “Kenapa sih kalau diajak ngomong serius mamam selalu ngaco jawabnya ?!”
Walaupun kecewa aku tidak melarangnya.
Siapa tahu nanti sikapnya akan berubah saat mendapati fakta bahwa anak2 kecil itu tidak selamanya lucu, lebih banyak yang seperti monster.
Aku saksinya, dan kamu buktinya anakku.
Selamat hari guru untuk para guru, para mantan guruku.
Jasamu tiada tara.
Kalau aku tidak ingin si bungsu jadi guru itu karena aku tahu beratnya jadi guru.
Selamat hari guru.
Dan akupun menangis, menangisi nasib guru dipedalaman...

Komentar

Postingan Populer