PAKAILAH NALURIMU, JAGA HARGA DIRIMU ....
Dear Diary,
Kemarin aku ditelpon temanku Mollida yang saat ini sudah pensiun.
Kami ngobrol banyak tentang kegiatannya sehari2 di Bank Sampah dan di perkumpulan pensiunan.
Tak sengaja kami cerita tentang Ati temanku.
Selepas ngobrol kucari nomor telpon Ati di Jogja, kutelpon dia tapi tidak diangkat.
Kenangan demi kenangan tak pelak lagi membanjiri ingatanku, kenangan tentang Ati dan teman2ku sesama Teller angkatan ke 9 di Bank BNI.
Dear Diary,
Saat itu masih kuingat jelas tak ada pegawai wanita yang dengan suka cita mau mengajukan diri menjadi Teller.
Bayangan berdiri berjam2 menghitung uang nasabah sangat menakutkan.
Saat psiko test dilakukan pun aku ingat dengan jelas sengaja berhitung dengan salah.
Teman2ku juga sama, sengaja disalah2kan menghitung agar tidak diterima jadi Teller.
Apa daya ternyata aku tetap diterima jadi Teller, berkutat dengan angka dan belajar menghitung uang dengan jari.
Pengajar dikelasku bilang bahwa kami diterima karena tinggi badan kami dan bibir kami yang tebal.
Dengan bibir tebal kami, diharapkan apabila sedang menghitung uang tiba2 spons berisi air habis bisa menggunakan air liur dibibir tebal kami.
Dengan gondok kami saling memandang, memperhatikan bibir masing2, bibir siapakah yang lebih tebal.
Saat pelatihan Teller aku akrab dengan Ati, Renta Marida, dan Dewi.
Diantara ke empatnya yang paling malas karenanya paling bodoh soal mesin adalah aku.
Pernah saat itu bukannya ikut pelajaran aku malah tidur di wisma BNI, di gedung selah ruang pelatihan, dikamar peserta dari daerah.
Tiba2 Renta lari terbirit2 mendatangiku dan bilang bahwa aku dicari Pemimpin LPN saat itu, aku lupa namanya.
Baru saja aku mau bangun ternyata dibelakang Renta sudah muncul sang pemimpin LPN dengan muka merah membara.
Renta dengan mimik prihatin bilang “ ini pak, Rita lagi sakit dari pagi”.
Aku mendengar Renta bicara seperti itu, otomatis pura2 menggigil dengan gigi gemeletuk.
Saat dipegang badanku dingin.
Tentu saja dingin karena AC kamarku pasang full yang terdingin.“Kelihatannya demam ini, bapak pijit ya? Bapak biasa pijit kalau ada yang sakit seperti ini.”
Karena orangnya melambai dan aku tahu baik hati, beda dengan pengajar yg lain, dengan pasah aku cuma bisa mengiyakan.
Dipijitlah aku dengan sekuat tenaga.
Setelah selesai dipijit tangan dan kakiku, aku disuruh istirahat kembali.
Renta dan teman2 lain mentertawaiku habis2an saat bercerita tentang akting jempolan kami.
Selama seminggu kemudian tangan dan kakiku dipenuhi lebam biru2 bekas pijitan sang Pengajar.
Dear Diary,
Pernah saat selesai pelatihan Ati bilang mau traktir aku dan teman2ku menonton.
Jadlah kami berempat naik 1 bajaj saling tumpuk ke bioskop.
Ternyata di bioskop sudah menunggu temannya Ati, aku lupa namanya, bapak2 yang menjadi pemimpin kredit di cabang tempat Ati bekerja.
Kami dibelikan segala macam, sambil aku ditugaskan untuk menemani ngobrol si bapak ganjen.
Aku marahi Ati sejadi2nya.
Aku bilang, bukan seperti ini kalau mau cari gratisan.
Lilik saat kuceritakan pun ikut marah.
Untuk selanjutnya Lilik selalu antar jemput pelatihan saking takutnya aku dikerjai Ati lagi. Yang enak tentu saja Ati, karena sekalian pulang kerumah kostku, Lilik selalu mengantarkan Ati terlebih dahulu.
Aku sempat protes karena takut Lilik lelah, tapi sambil senyum2 Lilik malah bilang “gak apa2 Rit, makin jauh kan makin lama kita bisa jalan2”
Ati temanku Dear Diary.
Sebetulnya dia pintar dan cerdik, tapi saat berhubungan dengan laki2 dia selalu menjadi obyek penderita.
Berpacaran dengan Johan, dia hanya dikibuli dan diporoti uangnya.
Berpacaran dengan Budi, dia juga cuma diporoti uangnya bahkan sampai membiayai kuliahnya.
Karena kami satu cabang dengan Budi, sebagai tanda solidaritas jadilah Renta dan aku marah2 dan melabrak Budi karena mempermainkan Ati.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Ati saat sekantor dengan bapaknya yang meninggalkan ibunya, satu bagian pula dengan laki2 yang membohonginya.
Saat Ati menikah, ternyata dia menikahi mantan bosnya di Mangga Besar, yang kaya raya, yang ternyata pula ayah mantan analisku.
Betapa kecilnya dunia.
Bukannya mendapat kekayaan, Ati malah menjadi bulan2an anak dan istrinya sang Bos. Akhirnya dengan berat hati mereka berpisah.
Di Jogja dia jatuh cinta lagi dengan duda kaya, bermobil gonta ganti berbagai merk.
Saat akhirnya menikah, baru ketahuan kalau mobilnya hanya pinjaman.
Sang duda hanyalah pelaut yang sedang mendarat.
Terpaksalah Ati menafkahi anak2 tiri dan suaminya serta membayar hutang2 suaminya yang bertumpuk2.
Saat mendengar ceritanya aku ingin mencekik leher Ati dan memaki2 semua kebodohannya.
Masak dia tidak bisa cros cek betulkah mobil itu punya suaminya atau bukan.
Masak dia tidak bisa menebak suaminya punya uang atau berkantong kempes?
Aku cerita ke Ati bahwa dulu pernah aku didekati cowok yang bersahaja tapi mobilnya keren.
Aku sempat ragu2, apa iya dia mau dengan janda beranak 3, setengah umur lagi.
Sambil main2, aku bilang “Coba lihat STNK nya Ri, jangan2 mobil boleh pinjam lagi. Gak lucu kan kalau kita lagi jalan ketemu sama yg punya mobil?”
Saat aku lihat mobil itu atas namanya, akupun tenang. Alhamdulilah, ternyata bukan supirnya.
Percayalah, banyak cara kok untuk mencek pasangan kita, gembel, setengah gembel atau kaya.
Kalau aku sih dari baunya juga tahu.
Dear Diary,
Bukan cuma Ati, banyak teman2ku yang bersikap bodoh dan mau dibodohi kaum laki2.
Bersikap pintarlah hai wanita, ingin aku teriak.
Bila memang mau tulus mencintai, tak usah perhitungkan materi, cukup perilaku dan budi pekertinya saja.
Lihatlah caranya bersikap apabila ada wanita lain, apakah matanya jelalatan?
Bila matanya jelalatan dan konsentrasinya buyar, pasti dia mata keranjang.
Seandainya pun saat itu masih belum jadi play boy, cepat atau lambat dia akan jadi buaya darat bila keadaan keuangan mengizinkan.
Bila hati kita siap terluka saat berpasangan dengan play boy, teruskan.
Bila kita tidak siap tersakiti melihat pasangan kita main mata dengan cewek lain, maka hentikan.
Bila memang mau jadi cewek matre, totallah bersikap.
Jangan pernah mengeluarkan uang untuk pria, apapun alasannya.
Begitulah cewek matre yang baik.
Jangan setengah2 dalam bersikap.
Tapi, apapun alasannya, sebaiknya jangan kita wanita yang membiayai pria.
Kalaupun kita tak tega, cobalah ingat harga diri.
Kesannya kok kita butuh banget...
Wanita harus punya harga diri, betapapun kita butuh uang.
Aku benci melihat kebodohan kaumku yang bisa dibohongi laki2 Dear Diary.
Biar bagaimanapun, wanita akan dirugikan.
Jadi janganlah bersikap gampangan dengan membiayai laki2.
Pakailah naluri mu, jagalah harga dirimu.
Ingatlah itu Ati, juga Ati Ati yang lain....
Aku benci melihat kaumku dibodohi Dear Diary...
Komentar
Posting Komentar