SELAMAT HARI ULANG TAHUN UNTUKKU
Dear Diary,
Selama hayat dikandung badan, aku belum pernah merayakan hari ulang tahun, selama 55 tahun usiaku, selama aku bisa mengingatnya.
Saat aku dalam kondisi berlebihpun, tak pernah merayakannya, alasan suamiku saat itu suamiku si semprul “sayang bu, ngapain sih pakai ulang tahun ulang tahun segala. Mubazir kita kasih makan enak orang2 yang mampu. Lebih baik uangnya ditabung buat masa depan anak2.”
Masuk akal memang.
Kebetulan aku nampaknya sudah terkena virus pelit dan hemat suamiku.
Kubayangkan saat perayaan ulang tahunku, aku hanya bisa makan emping dan telor saja sementara tamu2ku makan steak atau ayam goreng.
Memang mubazir sih kalau dipikir pikir, akupun langsung setuju.
Dear Diary,
Sepanjang karirku di BNI, aku selalu ketar ketir saat menjelang tanggal 12 Nopember.
Dikantorku banyak sekali penggemar makan gratisan disaat ulang tahun.
Kadang saat melihat orang yang berulang tahun, aku suka kasihan melihatnya ditodong agar mentraktir makan gratisan orang2 sekantor.
Saat itu kantor Wilayah kami jumlahnya 125 orang termasuk pegawai dasar.
Aku ingat jumlahnya dengan tepat karena kadang disuruh mengkordinir makan gratisan oleh pak Agus Kusbrijantono, bos ku, apabila ada pemimpin atau wakil pemimpin yang berulang tahun.
Sekarang para pemimpin itu lebih pintar, saat ulang tahun mereka tidak pernah pesan nasi kotak lagi tapi memesan catering dan dimakan beramai2 setelah dibacakan doa, lebih murah dan keren terlihat.
Lebih murah karena pasti dapat diskon atau bisa jadi sumbangan donatur baik hati.
Tahukah Dear Diary, saat makan gratisan aku kerap merasa bersalah, “ini seharusnya rejeki keluarganya dirumah”, pikirku.
Aku memang drama queen seperti anak2ku bilang, semua selalu dipikirkan pakai perasaan, bukan pakai otak.
Kalau yang berulang tahun kaya raya seperti temanku Tati Muntoro yang berulang tahun di Inul Plaza Semanggi, saat ditraktir makanpun aku serasa ingin tambah dan tambah porsi terus tanpa perlu merasa berdosa pada anak2nya.
Mereka kaya raya.
Uangnya tak akan habis 7 turunan bila aku tambah 2 porsi.
Tapi kalau yang berulang tahun pegawai biasa, aku kerap merasa berdosa.
Janganlah ulang tahun menjadi beban, pikirku.
Aku merasakannya sekali.
Ulang tahunku secara resmi di KTP dan didata kepegawaian jatuh tanggal 12 Nopember, tanggal tua menurut ukuran pegawai Bank sepertiku.
Tapi kalau dipikir pikir kembali semua tanggal terasa tanggal tua buatku, kecuali tanggal 25, tanggal aku gajian.
Jadilah 2 hari sebelum aku berulang tahun biasanya aku sudah pura2 sakit, pakai salonpas ditempat yang terlihat sang bos dan mengeluh pusing, sehingga saat hari H nya tiba, sang bos dan teman2ku tak akan curiga, mereka menyangka aku sakit atau sedang berbahagia merayakan ulang tahun dirumah.
Sayangnya pada era pak Agus menjadi bos ku, sang bos itu benar2 mantan preman, sehingga saat aku mulai pakai salon pas dan mengeluh pusing, dengan suara keras dia biasanya bilang “ gak usah pura2 sakit deh, lo kayak kaset rusak aja diulang2 terus. Masuk kantor saja tetap, lagi banyak kerjaan nih, paling habis berapa sih traktir teman2.”
Kampret banget, ternyata dia hafal hari lahirku.
Bos ku pak Agus itu sih bisa saja dengan mudah bicara seperti itu, dia orang kaya, bapaknya mantan Dewan Komisaris Danamon dan BRI.
Uangnya berlimpah.
Aku mangkel dibilang seperti itu.
” Bapak kenapa sih semua orang disamakan dengan bapak, suka ngibul ? Saya benar2 pusing kok gak percaya? Kalau saya mati dikantor mungkin baru dipercaya.”
“Masak lo sakit setiap menjelang ulang tahun? Memangnya gue gak perhatiin?” dia menjawab
Kalau sudah begitu senjata andalanku keluar, menangis sambil banting2 apapun dimejaku.
Bos ku memang antik.
Dia selalu ber – elo dan gue – saat berbicara dengan semua orang.
Terdengar kasar dan menggelegar saat berbicara tapi hatinya selembut salju.
Kulihat dia kerap memberi bantuan uang buat pegawai2 dasar dengan diam2, tanpa pelit.
Pantas saja kulihat dia dianggap raja minyak oleh para pegawai dasar di kantorku, disanjung dan dipuja2 setinggi langit.
Saat ada pegawai dasar yang mengadakan acara dia juga rajin hadir.
Al fatehah buat pak Agus Kusbrijantono...
Dear Diary?
Bukan cuma aku saja yang merasakan kesulitan saat menjelang tanggal ulang tahun.
Saat ulang tahun anakku yang bungsu aku juga kerap kehabisan nafas, megap2 karena tidak punya uang untuk merayakannya.
Ulang tahunnya jatuh tanggal 23, tanggalnya orang hanya menghitung hari menjelang gajian dengan nafas hampir putus.
Beruntung aku mempunyai 5 kartu kredit platinum, cukup kuserahkan kartu kreditku sambil memberi batasan nilai yang boleh dibelanjakan.
Selamatlah aku, tinggal membayar tagihannya saja yang harus kusiapkan.
Biarlah aku pusing belakangan.
Biarlah aku ngos2an belakangan asal si bungsu ulang tahun.
Dear Diary,
Rasanya hanya sekali aku pernah merasakan indahnya ulang tahun, aku ingat sekali itu saat aku berumur 35 tahun, saat usia perkawinanku menginjak 8 tahun.
Suamiku Lilik, eh si semprul maksudku, saat aku bangun tidur pagi itu menyerahkan selembar kertas berisi tulisan jeleknya, dan mencium pipiku,” selamat ulang tahun bu, terima kasih sudah kasih bapak anak2 yang lucu, terima kasih sudah kasih bapak kebahagiaan" katanya.
Kalimat terpanjang yang diucapkannya, diluar saat2 berdebat tentang politik dan hukum.
Aku terharu.
So sweet.
Orang yang tidak romantis seperti dia bisa menulis puisi bagus untukku.
Dia memperhatikan hobbyku membuat puisi ternyata.
Tapi aku tetap curiga.
Pasti dia minta dibuatkan orang.
Tidak mungkin tiba2 dia bisa menulis puisi.
“Pasti bukan bapak yang bikin ya? Dibuatin siapa pak?”
Dengan wajah tanpa dosa dia bilang “ enggak kok. Itu bapak nulis sendiri. Itu kan lagunya Chrisye, masak ibu gak tahu?” Dia memang penggemar Chrisye.
Rasa bahagiaku karena puisi yang tadi membuatku ada diawang2 langsung terjerembab dilantai kamar.
Ah, kampret banget.
Ternyata tepat dugaanku, dia memang tidak bisa menulis puisi.
“ Lilin2 kecil hangat dihati,
mengingatkan daku saat dulu,
saat indah dulu, saat penuh canda,
dimasa remaja,
yang penuh tawa ceria....”
“Sewindu berlalu, tiada terasa,
bulan tahun telah kita lewati,
kini kau tertidur, disamping si kecil,
buah hati kita,
perasaan menyatu dalam cinta...”
Biasanya anak2ku kalau tidak sedang boikot atau kesal denganku pasti datang menemuiku.
Yang paling romantis rasanya anak sulungku dan si bungsu.
Pertama kali aku mendapat bunga dari seorang lelaki ya dari putraku.
Beberapa kali dia memberiku hadiah ulang tahun berupa bunga sambil berdiri jauh2, takut dipeluk atau dicium olehku.
Beberapa kali dia memberikan hadiah perhiasan dari platina , sayangnya saat itu aku belum mempunyai kotak perhiasan sehingga tercecer entah dimana.
Kalau si bungsu biasanya memberikan hadiah ulang tahun berupa puisi atau lukisan.
Benar2 si bungsu itu tiruanku, hobbynya sama persis, dikurangi mata keranjang pastinya, karena si bungsu benar2 “dingin” terhadap pria.
Diantara ketiganya yang paling pintar atau mungkin licik, pastinya si tengah.
Setiap ulang tahun dia pasti memberikan hadiah makanan kesukaanku, yang kebetulan kesukaannya juga.
Sekalian memberi sekalian bisa ikut makan. Pintar tapi licik.
Dear Diary,
55 tahun usiaku kini.
Ibu dan ayahku tiba2 datang membawa semua makanan kesukaanku, dari mulai nasi uduk sampai jengkol dan pergedel kentang.
Aku tak bisa mengucapkan apa2, seperti anak kecil aku cuma bisa menangis.
Si bungsu juga datang dari Bandung membawa oleh2 sebuah video dan sepucuk surat sambil berbisik “selamat ulang tahun mam”, disambung dengan kata yang lebih lirih “aku nanti diongkosin ya pulang ke Bandung ya”.
Tahun ini dia tidak memberiku hadiah berarti, tapi aku puas dia datang.
Sayangnya sepucuk surat itu ditulisnya dalam bahasa Inggris.
Dear mom,
When you wake up and look in the mirror today, don’t feel sad or worry about the wrinkles, crow’s feet or freckles that you have.
I want you to see those things as I do.
Your wrinkles are testaments to the challenges and problems you’ve overcome in life.
The crow’s feet in the corner of your eyes shows how much happiness and joy you’ve experienced.
Lastly, the freckles on your skin is proof of your time spent in the sun, working, taking care of your family, being alive.
Don’t be afraid of growing old, appereciate it, enjoy it and bask in its delight.
Happy birthday mom.
Love, Vani.
Sumpah, aku menangis membacanya walau terbata2 mengartikannya.
Si sulung juga datang. Dia memberi tempat permen lucu berpita.
Sayangnya dia tetap tidak mau dipeluk apalagi dicium.
Aku berharap masih diberi umur panjang, diberi kesempatan untuk bertobat dan berbuat baik, menebus semua kesalahan2ku dimasa lalu.
Mudah2an benar anekdot2 yang kerap diceritakan orang2 bahwa “ orang yang berdosa akan diambil Tuhan belakangan...”
eh anu...kok rasanya mirip Mama Ega ya ?
Banyak doa terucap dan dikirimkan untukku melalui segala macam cara.
Ada yang malu2 melalui inbox, ada yang melalui FB,Line, atau WA.
Aku berterima kasih sekali.
Ternyata walau aku masuk kategori nenek2 jomblo, masih ada yang mengucapkan doa untukku.
Terima kasih teman, sahabat dan keluargaku, atas semua doa yang terucap untukku.
Terima kasih banyak.
Bogor, 12 November 2015.
Komentar
Posting Komentar