TETANGGA TETANGGAKU
Dear Diary,
Kemarin, 18 November hari rabu sore, saat aku sedang menyiram tanaman tiba2 aku terpeleset.
Kaki kiriku menekuk ganjil.
Aku lupa rasa malu, aku langsung menjerit2 sejadi2nya sambil menangis.
Nikmatnya hidup didesa adalah orangnya saling tolong menolong.
Teguh, tetangga sebelah kiri rumahku, yang sering kuledek sebagai bujangan abadi, langsung lari terbirit2 mendatangiku.
Sialnya pintu pagar sudah kugembok karena memang sudah selesai menyiram tanaman diluar pagar.
Tak kurang akal dia meloncati pagar tembokku. Dibantu pegawainya mereka membawaku ke kamar, masing2 memegangi ketiak dan pinggangku kanan kiri.
Yah cuma orang2 sebesar Teguh yang bisa membawa tubuh raksasaku.
Tetangga sebelah kanan tempatku biasa ngerumpi, bu Juned langsung berinisiatif dengan naik ojek mendatangi dan menjemput tukang urut Cimande langganannya.
Tukang urut datang, tapi sialnya dia masih menolak mengurutku.
Alasannya aku wanita, dan bukan muhrim.
Sambil menangis kesakitan aku bilang “pak ini kan niatnya menolong orang. Biarpun saya wanita tapi saya kan nenek2 pak, jelek lagi, gak masalah bukan muhrim. Bapak kan gak mungkin tergoda nenek2 tua dan jelek seperti saya. Tolong saya pak....”
Sejenak tukang pijit itu memandangi wajahku.
Setelah yakin aku cuma nenek2 tua dan berwajah jelek, yang tak mungkin membuat imannya tergincir, dia menghampiriku, menghampiri kakiku sebenarnya.
Dear Diary,
Pijitannya memang manjur.
Tempurung kakiku yang dalam waktu singkat membengkak sebesar buah melon dipijit2 pinggirannya, tentu dengan minyak khas Cimande dan jampi2, membuatku menjerit setinggi langit. Sakitnya minta ampun.
Setelah selesai dipijit, kakiku lalu dikompres dengan air hangat berisi garam dan cuka.
Kusaksikan sendiri bengkaknya mengempis, tidak semenakutkan tadi, membesar dan makin membesar.
Pak Marta tukang urut Cimande itu pulang dengan diantar Teguh.
Aku menangis terharu, tidak bisa berkata apa2 melihat kebaikan tetanggaku.
Jangan dibilang kebaikan2 kecil lainnya, seperti memasang lampu yang mati atau mengangkat galon.
Dulu aku memakai dispenser dengan galon diatasnya. Untuk menaikan galon perlu usaha ekstra keras, padahal pinggangku yang rematik tidak bisa membuatku mengangkat galon.
Biasanya aku minta tolong Teguh atau pak Juned, suaminya bu Dedah, istri pak Juned.
Saking malunya minta tolong angkatin galon setiap 4 hari sekali, akupun membeli dispenser baru yang letak galonnya ada dibawah.
Aman....aku tidak tergantung lagi pada tetangga2ku saat aqua galonku habis.
Lampu korslet atau butuh lampu baru?
Pak Juned selalu siap membantu.
Pernah aku terkunci dirumah karena pagar digembok oleh Dini anak angkatku dan kuncinya lupa terbawa ke sekolah, padahal saat itu tanggal 25, aku harus pergi karena ini saatnya bayar2 semua tagihan.
Pak Juned bagaikan hero, langsung mengutak utik pagar gembokku.
Setelah selesai dia membelikan gembok baruku.
Kuganti semua pengeluarannya, namun sayangnya dia hanya mau diganti seharga pembelian gembok saja.
Inilah susahnya.
Biasa hidup di Jakarta yang serba “lu jual gue beli” dalam arti sesungguhnya, aku biasa menghargai jerih payah orang dalam bentuk apresiasi berupa uang.
Kalau aku ingin leha2 bangun siang, aku harus sms bu Juned dahulu “bu, gue besok bangun siang ya, bukannya sakit.”
Kalau tidak kuberitahukan lebih dahulu bu Juned akan menggoyang2kan pagarku dalam irama lagu dangdut sambil memanggil manggil namaku, khawatir aku sakit atau meninggal didalam rumah.
Bu Juned sangat perhatian memang, lebih perhatian kepadaku daripada kepada ibu mertuanya yang sakit lama.
Mungkin karena dari aku dia dapat tambahan ilmu tentang Jokowi, Ahok, Prabowo, Menteri2 kampret yang sekarang duduk di kabinet, tentang KIH dan KMP, atau gosip terbaru tentang gay2 yang banyak berkeliaran didunia entertainment Indonesia.
Simbiosa mutualistis sebenarnya.
Karena dari bu Juned aku tahu perkembangan harga2 dari mulai telur sampai pete dan jengkol, pedagang ikan lele yang bunuh diri, pedagang mana yang sedang jatuh cinta, dan siapa pacar Teguh paling mutakhir.
Satu yang belum sempat kulakukan karena selalu lupa saat ke Gramedia, membelikan buku kas untuk bu Juned dan Teguh.
Aku ingin mereka bersikap dan menghitung serta mencatat layaknya pengusaha, karena mereka sesungguhnya memang pengusaha walau masih kelas ritel.
Dear Diary,
Tetangga sebelah kiriku, bujangan abadi bernama Teguh sebetulnya pemuda baik2, lugu dan jujur, hanya dia salah berteman dengan teman yang hanya bisa memanfaatkan uangnya Teguh, kebetulan sang bujangan punya sikap bossy, klop lah sudah.
Aku dan bu Juned serta mantan adik iparku Tiamah yang kurasa diam2 menyukai bujangan itu, seringkali bergosip tentang sang bujangan, siapakah pacar mutakhirnya mengingat setiap dua hari sekali dia up date FB sedang jatuh cinta dengan orang yang berbeda.
Sang bujangan sering jatuh cinta sesering dia ganti baju, kira2 dua hari sekali.
Lengkap dengan photo dan doanya “mungkinkah ini jodohku Tuhan?”
Kami bertiga sering membahas pacar2nya sambil ber haha hihi bila ternyata pacarnya berwajah jelek.
Kami para ibu memang sudah jadi penggosip akut, pantas saja Al Quran bilang bahwa penghuni neraka kebanyakan wanita.
Seperti inilah sikap wanita, banyak kerjaan ataupun tidak ada kerjaan, selalu menyempatkan diri dengan bergosip.
Saat masih aktif bekerja jungkir balik pun aku masih sempat bergosip atau biasanya lebih mendengarkan gosip, apalagi saat seperti ini, waktuku lebih banyak untuk santai.
Bergosip tentang sang bujangan yang kami lakukan bukan karena benci, jauhhhhhhhh ....dari benci malahan.
Kami hanya mentertawakan situasi dan pilihan2nya, diujung gosip kami biasanya bersama2 berharap dengan khusyuk “ mudah2an Teguh dapat istri yang baik ya, dia orang baik soalnya. Kalau istrinya baik kita kan juga jadi lebih enak bergaulnya. Mudah2an dia dapat istri yang solehah dan bisa membimbing dia.”
Dear Diary,
Hanya dengan dua rumah kanan kiriku aku merasa klop bergaul walau usia mereka lebih muda, dengan tetangga belakang rumah yang jumlahnya lebih banyak aku malas bergaul.
Pintu garasiku bahkan tak pernah kubuka kecuali saat buang kotoran kucing.
Disepanjang belakang rumahku semua berhubungan keluarga.
Sialnya aku saat baru pindah sudah menyulut kebencian seorang laki2 tua berusia 74 tahun, Antoni, yang berseteru dengan mantan pemilik rumah yang kubeli.
Dua bulan sesudah kepindahanku jalan menuju garasiku dipasang pasak besi 3 buah sehingga mobilku tidak bisa masuk garasi dengan alasan aku melewati tanahnya seukuran +/- 2 x 1 meter.
Jalur mediasi langsung sudah kulakukan.
Awalnya dia bersedia menjual tanahnya seharga rp. 25 juta. Tapi saat kudatangi dia malah menghindar dan konsep perjanjian yang kubuat tidak diterima dengan alasan “Siapa yang mau jual tanah? Saya cuma memberikan izin numpang lewat.”
Negosiasipun buntu.
Aku menangis berhari hari merasa kesal dan sedih.
Garasi yang kubangun tidak bisa dilewati mobil, sementara mobilku malah harus kutitipkan di depan panti pijat di Guaraja, karena tukang parkirnya teman dari Teguh.
Dua bulan kemudian si kakek gila kuasa itu datang lagi.
Sesudah bicara ngalor ngidul dia bilang “ Terserah ibu sajalah, bayari berapa saja saya ikhlas. Ibu sebetulnya kan gak salah, itu karena ibu dibohongi Frans pemilik sebelumnya.”
Karena aku sedang tak punya uang, aku tak bisa memberi jawaban.
Sebulan kemudian saat sudah punya uang kutelpon dia, kutanyakan tentang tanah belakang.
Jawabnya “Siapa yang mau jual? Saya tidak butuh uang! “ dan rentetan caci maki lain.
Buru2 kututup telpon.
Kembali aku menangis sedih, merasa dibohongi dan terdzolimi.
Sampai sekarang tanahku masih dipasang patok besi oleh laki2 tua itu.
Aku sudah malas merendah dan berbasa basi.
Kudiamkan saja.
Ada satu tetangga wanita yang coba2 mengintimidasiku, selama ini dia memang terkenal nyinyir dan kerap berkelahi dengan sesama tetangga.
Awalnya cuma buang sampah didepan garasiku.
Aku langsung bilang” tolong bu, ini bukan tempat pembuangan sampah. Saya keberatan, rasanya ini masih tanah saya.” Sambil tersenyum tentunya.
Kali kedua saat aku buang tahi kucing, dia protes katanya bau.
Aku menjawab “ Lho saya buang tahi kucing kan ditanah saya masak tidak boleh?”
Kali ketiga dia membakar sampah tepat didepan garasiku.
Aku ambil selang air, segera kupadamkan.
Rupanya si nyinyir merasa tidak enak hati atau merasa tertangtang, entahlah.
Dia datangi aku yang sedang menyiram bakaran sampahnya. “Kok dimatiin bu sampahnya?”
Aku mulai emosi. “Coba ibu masuk rumah saya, lihat, rumah saya penuh asap. Kucing2 saya yang mahal bisa mati. Memangnya ibu mau ganti? Ibu mampu ganti? Kalau mau buang sampah kenapa tidak didepan rumah ibu saja, rasanya ini masih masuk tanah saya!” Kali ini tak ada senyuman lagi diwajahku.
“Oh maaf bu saya tidak tahu. Maaf sekali lagi”
“ Ya sudah, tapi lain kali kalau bakar sampah tolong jangan dihalaman rumah saya.”
Kulihat dia masih berdiri tertegun memandangku.
Kata orang2 yang kenal denganku, wajahku saat marah sangat menakutkan.
Selesai menyiram bakaran sampah, kututup pintu garasi.
Kututup pula pintu hatiku untuk tetanggaku, si nyinyir itu.
Entah disengaja atau tidak semua tindakannya, aku tak tahu, yang pasti dia adalah adik ipar laki2 tua itu.
Selesai episode hubunganku dengan tetangga rumah belakang.
Walau saat berpapasan dengan si nyinyir aku selalu mengangguk sopan, aku tak pernah mau lebih dari itu.
Saat bertemu di rumah sakit, rupanya dia sedang sakit dan berobat disitu juga, aku bertahan tidak menawari agar kami bersama2 pulang naik mobilku.
Tidak akan pernah.
Aku bukan orang yang pemaaf, sakitnya tuh disini, tidak bisa masuk kegarasi sendiri.
Dear Diary,
Setiap ingin bergaul dengan tetangga yang lain, aku selalu meminta info siapakah dia, apa saudaranya si kakek gila kuasa itu, bagaimana sikapnya dulu, dll info kepada bu Juned.
Maklum.karena 1 kampung itu isinya banyak yg saling bersaudara.
Aku benar2 mengeliminir pergaulanku dengan tetangga2 lain.
Saat diundang atau ada kematian aku pasti datang, tapi untuk lebih dekat dari itu aku masih belum siap.
Aku benar2 paranoid dengan pengalaman bertetangga saat di Sentul.
Saking dekatnya hubunganku dengan pak RT yang dulu saat belum diganti pak RT yang duda, dia meminjam uang, tidak besar hanya rp. 200 ribu. Kuberikan dengan pertimbangan untuk mendekatkan hubungan, kalau tidak dikembalikan ya sudahlah, aku cuma mengetes hubungan.
Aku memang suka mengetes seseorang.
Tapi yang terjadi kemudian adalah dia membawa bu lurah, saat itu lurahku wanita, untuk meminjam uangku karena uang bansos dari Pemda belum turun sementara dia harus membayar THR pegawai kelurahan.
Bu lurah pinjam uang sebesar rp. 5 juta.
Pak RT juga membawa habib yang kerap berceramah dikampungku untuk meminjam uang membayar kekurangan biaya Umroh istrinya sebesar rp. 5 juta juga.
Tiga kali batas kesabaranku.
Susah payah kutagih uangku saat jatuh tempo sesuai janji, walau pak RT ikut membantu menagihkannya tapi hatiku sudah terlanjur sakit.
Aku menghindar.
Benar2 menghindar dengan memasang pagar tertutup setinggi 2 meter ditambah pohon bambu jepang disekililingnya.
Aku jarang pulang ke Sentul dan lebih banyak tinggal dikontrakanku di dekat kantor.
Suamiku, si play boy tua, saat itu hanya geleng2 kepala dan menasehatiku dengan logat jawa medoknya “makanya dik, kalau mas nasehati didengar. Kalau urusan uang tidak ada saudara, apalagi hanya pak RT. Uang itu bisa merusak persahabatan.”
Dear Diary,
Pengalaman adalah guru yang terbaik.
Sejak awal kuterangkan pada bu Juned atau Teguh bahwa aku tidak suka dihutangi, aku juga tidak suka berhutang.
Aku ingin bersahabat ya bersahabat, tidak ada urusan uang.
Makanya setiap aku beli sesuatu di warung bu Juned bila uangku kurang aku selalu buru2 pulang kerumah dan melunasi kalau ada kekurangan.
Sejauh ini mereka mengerti, persahabatan itu tidak sejalan dengan keuangan.
Cukup dua tetangga dekatku, selebihnya tetangga setengah dekat dan tetangga sebatas senyum seperti si nyinyir itu.
Saat musim hujan datang, tiba2 kamar mandiku kebanjiran.
Air dari pembuangan bekas mandi meluap, membasahi seantero kamar mandi.
Agung, kakaknya Teguh bergegas membantu mengosongkan air, dan mencari2 sumber masalah. Dia membobol pralon, membobol lantai sampai ketemu akar masalahnya.
Kudiamkan saja.
Aku terlalu shock melihat air yang meluap, walau bersih.
Setiap hujan datang, dengan was2 dia selalu bertanya “airnya meluap lagi gak bu?”
Seandainya aku tinggal di Jakarta tak akan kutemukan tetangga2 sebaik itu.
Tetanggaku adalah saudaraku buatku, selama tidak melibatkan uang tentunya.
Bukan karena aku pelit, yah mungkin sedikit pelit, tapi seperti kata suami keduaku yang benar2 pelit “Kalau urusan uang tidak ada saudara. Uang itu bisa merusak persahabatan”.
Uang memang bisa merusak persahabatan kok, aku yakin Dear Diary.
Komentar
Posting Komentar