ARISAN  OH ARISAN....

Dear Diary,
Kemarin, hari Kamis 28 Februari 2019, untuk pertama kali aku datang ke acara arisan pensiunan BNI untuk daerah Bogor di resto Saung Merak, didaerah Tanah Sereal Bogor.
Walau sudah janji akan datang ke Dedeh dan mbah Remi, Brad Pittnya pensiunan Bogor, seperti biasa aku tiba2 malas.
Soalnya film Lucifer yang kutonton lagi sedang seru serunya, iblis ganteng itu sedang jatuh cinta pada sang detektif, sementara sang detektif hanya cuek beibeh.
Ah seandainya saja itu terjadi padaku pasti akan kuterima dengan tangan, kaki  dan mulut terbuka.
Matanya itu lho...tajam dan menghipnotis.
"Mam...kok belum siap siap, hari ini kan mamam arisan. Jangan bilang mamam males deh." tiba tiba suara si bungsu mengagetkanku.
"Mamam gak males kok Van, cuma malu aja mau datang, ternyata mamam gak punya tas."
" Pakai tas ini aja mam, masih bagus kok mam." Si bungsu menunjukkan tas hitam berbahan suede yang kubeli ratusan tahun yang lalu.
" Mamam juga gak punya sepatu yang pas Van. Masak mamam baju pink sepatunya biru." Seperti biasa aku ngeyel dan mencari cari alasan.
"Pakai sepatu Vani aja mam. Sepatu Vani kan banyak. Kita kan ukuran kakinya sama mam." Anjrit banget.
" Tapi mamam kan gak tahu alamatnya Saung Merak dimana, jam berapa acaranya. Chat nya sudah gak ada...sudah mamam clear chat."
"Ya Allah mam, kan bisa ditanyain, apa susahnya sih?"
Aku segera bertanya tanya sana sini dengan harapan tidak ada yang menjawab.
Ternyata dijawab semua.
Yahhh...akhirnya aku segera mandi, pakai make up, kalau buat alis dan pakai lipstick bisa dikatakan pakai make up, dan segera pesan Gojek.
" Van...kamu gak kasihan lihat mamam pakai baju pink sepatunya biru ?" kataku memelas.
Ini usaha terakhirku.
" Enggak kok mam, kalau mamam yang pakai pantas aja kok. Gak bakalan ada yang sangka mamam orang miskin, lemak mamam kan banyak. Jaman susah seperti ini hanya orang orang kaya yang banyak lemaknya mam." si bungsu menjawab dengan telak.
Aku menyesal sering berdebat dengannya. Sekarang dia belajar dariku cara menjawab pertanyaan dengan jawaban menyakitkan, dia belajar dari sang ahli.

Dear Diary,
Saat datang ke acara tersebut aku mirip anak hilang.
Celingukan sana sini mencari wajah pak Herawan satu satunya orang yang kukenal.
Tidak ada.
Untungnya aku langsung lihat wajah yang rasanya pernah kulihat, wajahnya bu Dientje sang pemilik restoran, rasanya dulu dia pernah menjadi pemimpin di KLN di Baranangsiang .
" Selamat siang bu, saya Rita."
" Maaf ibu dari mana ya?" Dia malah balik tanya.
Waduh, wajah pensiunanku tidak dikenali ?
Apa karena aku lambang kemakmuran dengan tubuh berlemakku  disangkanya aku tamu resto ?
" Saya Rita, pensiunan BNI, mau ikut arisan."
" Ohhh bu Rita. Ayo masuk bu masuk. Itu sudah pada datang."
" Bu, apa bu Dedeh sudah datang?" tanyaku.
" Oh sudah...masuk saja masuk. Dia pakai baju biru."
Akupun celingukan mencari baju biru.
Ternyata banyak yang pakai baju biru.
" Bu Dedeh...bu...ini ada bu Rita cariin nih." teriak bu Dientje.
Oh ternyata yang namanya Dedeh Syarifah di FB itu cantik orangnya, mirip orang arab.
Itu sih bukan baju biru bu Dientje, bu Dedeh itu pakai baju hijau metalik, ujarku dalam hati.

Dear Diary,
Aku memang mahluk anti sosial dan tidak suka beramah tamah dengan orang asing.
Tapi manakala diperlukan ternyata aku memang bisa.
Hal yang tidak mungkin kalau mantan pemasar tidak bisa  berbasa basi dan bergaul.
Karena pilihanku hanya 2, bergaul atau terasing, aku memilih bergaul, toh cuma beberapa jam dan nanti aku bisa balik kembali ke peraduanku, menyendiri, sembunyi dan menangisi nasib.
Setelah salaman dan kadang cipika cipiki, aku duduk disebelah Dedeh dan di seberang bu Utju.
Banyak cerita mengalir kudengar.
Aku pilih obrolan yang paling kukuasai, tentang cinta dan perkawinan.
Aku tak mau bertanya tentang anak dan cucu.
Aku khawatir salah tanya, "anaknya ada berapa bu" gak tahunya dia gak punya anak.
Cerita  paling hot pasti cerita tentang Brad Pitt nya pensiunan BNI.
Sebetulnya namanya Ramidjan tapi nama gaulnya mbah Remi.
Pria yang masuk BNI pada 10-11-1964  diusia 20 tahun, dan pensiun 34 tahun 11 bulan kemudian pada 31-10-1999 ini suka sekali  guyon  dan tak pernah marah walau diledek oleh aku atau Dedeh.
Kami  berdua memanggilnya Bradd Pitt itu karena seringnya mbah Remi meng upload photo sedang telanjang dada atau jungkir balik, atau sedang bergelantungan dipohon, maaf, lagi lagi dengan telanjang dada.
Photo buram puluhan tahun lalu itu sekilas mirip Bradd Pitt sedang jungkir balik karena stres sesudah cerai dengan Angelina Jolie.
Bradd Pitt cerita betapa dia dulu bahagia hidupnya dikelilingi wajah wajah bening pegawai BNI Bogor, belum lagi wajah wajah nasabahnya yang juga bening.
Saat kutanya pernahkah punya affair dengan sesama pegawai dia bilang tidak pernah.
"Alhamdulilah saya jatuh cintanya sama nasabah bu, kalau sesama karyawan nggak sih. Tapi kalau sama nasabah nggak kehitung bu." Pengakuan mbah Remi itu  jujur kok.
Mojang Bogor memang cantik ditambah lagi merk sebagai pegawai BNI pasti menambah nilai jual.
Setahuku dari dahulu BNI Bogor memang terkenal  diseluruh BNI kr pegawai nya cantik dan bening bening, entah kalau sekarang.
Bahkan dulu saat aku membuat film " Pada suatu hari di BNI", film tentang edukasi layanan di BNI, aku memilih lokasi BNI Bogor untuk lokasi shooting, lengkap dengan pegawai nya sebagai pemainnya.
Love story mbah Remi dengan istri tercintanya yang dulu pegawai Telkom juga terungkap tanpa sadar.
Dia cerita bagaimana dulu sang Bradd Pitt tertarik kr suaranya sangat merdu saat mengumumkan lewat pengeras suara.

Dear Deary,
Didepanku duduk bu Utju.
Usianya sudah 77 tahun karena dia kelahiran tahun 1942.
Herannya dia masih cantik.
Dalam hati aku bersyukur, untung aku tidak seumuran dengan bu Utju.
Bisa jadi jomblo abadi kalau bersanding dengan dia.
Alhamdulilah era kami berbeda.
Disebelahku juga ada Dedeh Mulyati usianya baru 60 tahun.
Sayangnya aku lupa tanya kenapa wajahnya mirip arab dengan hidung mancung dan mata lebar.
Tidak banyak yang sempat diajak ngobrol karena kami duduk terpisah pisah.
Aku sempat tanya tanya dengan wanita yang duduk diseberangku, disamping bu Utju, namanya ibu Sulaeman, istri bapak Eman Sulaeman mantan  petugas cash vault Bank BNI Bogor yang pensiun ditahun 1995.
Disebelah kiriku ada ibu Legiman mantan pegawai kredit ditahun 1973 di BNI Jakarta Kota.
Setelah ngobrol ngalor ngidul akhirnya terkuak kisah cintanya dengan suaminya, pak Legiman, 81 tahun usianya kini.
" Kenal dengan pak Legiman dimana bu?" tanyaku.
"Oh dulu saya satu kampung dengan pak Legiman. Yah biasalah...cinta monyet. Dari kecil sudah kenal sama bapak. Saya kerja di Sarinah Thamrin sedang bapak di BNI dekat Beos." jawabnya.
" Ibu pernah kerja di Sarinah ?" aku kaget.
Kuperhatikan memang masih ada gurat gurat kecantikan di wajahnya yang putih.
"Pantesan pak Legiman naksir ibu, dulu ibu pasti cantik sekali. Sarinah sampai sekarang pegawainya pilihan semua soalnya, cantik cantik semua."
"Iyalah cantik...kalau gak cantik bapak mana mau.." jawabnya sambil tersenyum senyum.
Aku ikutan tertawa bahagia dapat teman senasib yang percaya diri.
Tiba tiba ada  bapak bapak kecil mungil dengan lincah menggoda bu Utju.
"Nab...Jenab...jangan ngelamun aja dong..." godanya sambil cengengesan dengan garing.
Kulihat bu Utju tidak membalasnya, dia hanya memberi lirikan tajam lalu memalingkan muka.
Aku tidak tahu apakah itu lirikan kesal, sebal atau bahagia.
Wanita itu mahluk paling kompleks dan plin plan dijagat raya.
Kadang dia cemberut padahal hatinya bahagia, kadang marah padahal dia mendamba dan ingin digoda.
Ehm...kalau itu sih pendapat profesional karena pengalaman pribadiku.
" Pak Sigit memang begitu bu.." Dedeh memberi penjelasan " Dulu dia di bagian pembukuan. Kayaknya dia naksir berat sama bu Utju makanya sering godain...panggilannya juga khas, Jenab. Cuma pak Sigit yang panggil Jenab."
Bu Utju memang cantik.
Walau usianya sudah 77 tahun tapi masih kinclong dan singset.
Aku saat usia 77 tahun pasti sudah seukuran Paus Pilot Whale, itu paus raksasa paling  besar sedunia.
Kalau cantik saja mungkin sudah biasa kulihat.
Aku memang penggemar keindahan, dari mulai cowok ganteng sampai wanita cantik.
Aku kagum pada keindahan pemberian Tuhan.
Bu Utju ini  ternyata  juga selain cantik juga ternyata tipe pemberi dan baik hati.
Aku baru duduk 10 menit dia sudah memberi tas plastik besar berisi 10 buah pastel, risoles dan 1 plastik besar rempeyek teri medan buatannya.
Melalui Dedeh dia memberikan tas plastik itu dengan malu malu.
Ya ampun...aku kan baru kenal.
Dengan shock aku terima pemberiannya.
Dalam hati aku jingkrak jingkrak kesenangan, "mudah mudahan gak pakai ayam atau daging" aku sempat berdoa singkat.
Pengalaman mengajarkan bahwa kebaikan hati tidak bisa di buat buat.
Saat tidak ada air minum padahal tenggorokanku haus, dia sodorkan gelas berisi teh hangat  jatah minumnya.
Juga karedok, atau es doger.
"Ini minuman baru kan bu? Belum diminum?" tanyaku curiga.
Begitulah manusia sepertiku.
Sudah diberi minum malah curiga.
Kebaikannya tercermin jelas diwajahnya.
Aku yakin dulu dia pasti banyak pemujanya.
Percayalah, laki laki itu bisa mengendus kebaikan dan kecantikan dari jarak jauh kok.

Dear Diary
Melihat kesekeliling kulihat banyak wajah seusiaku, masih banyak yang kinclong walau usia tidak bisa berbohong.
Mudah mudahan aku bisa sekinclong mereka saat seusia mereka, doa aneh itu kupanjatkan buru buru takut lupa.
Rasanya lebih keren jadi nenek nenek kinclong daripada nenek nenek kusut.
Ada banyak bapak bapak yang masih lincah seperti bola bekel, memantul kesana kemari.
Ada juga yang tertatih tatih datang.
Tiba tiba aku ingat ayah.
Begini jugakah ayah kalau datang arisan  pensiunan ?
Seperti pak Sigit kah, memantul kesana kemari atau seperti bapak bapak dipojokan sana yang hanya diam memandang cewek dari ujung ke ujung ?

Dear Diary,
Aku memang baru pertama kali ikut, tapi hatiku sudah tertambat rempeyeknya bu Utju.
Saat arisan ada tambahan informasi tentang daftar ulang via ponsel atau tentang SHU dan reimburse biaya rumah sakit ke asuransi yang disampaikan pak Supardi dan pak Herawan.
Ada juga doa panjang yang tidak jelas lafalnya  yang disampaikan entah oleh siapa aku lupa namanya.
Kelak aku harus datang lagi sejauh kakiku kuat menghadirinya.
Satu alasan pasti untukku : Aku tak mau saat aku mati tidak ada yang melayat karena aku selalu bersembunyi.
Cuma itu, sesederhana itu alasanku.

Komentar

Postingan Populer