BEDA IBU DAN BAPAK :

Dear Diary
Barusan lihat photo2 di grup WA membuat aku jadi teringat masa lalu. 
Gambar seorang wanita yg sedang mengajari anaknya agar memanggilnya "kakak" didepan oom ganteng, membuat ingatanku menerawang ke masa lalu.


Dear Diary
Aku ingat, saat itu aku baru kelas 6 SD dan baru berkumpul kembali dg ibu yang sudah menikah lagi dengan ayah yang kerja di BNI dan tinggal di Karet Gusuran Setiabudi. 
Memang sih wajahku jauh berbeda dg ibu, gak akan ada yg menyangka aku anaknya. 
Ibu tipikal gadis Jawa, bertubuh kecil, manis, berkulit kuning langsat dan  berhidung bangir. 
Saat itu tinggiku hampir sama dg ibu. 
Entah ibu malu mempunyai anak sudah besar sementara ibu baru berumur 30 tahun, atau ibu takut dianggap sudah tua, setiap kami mau pergi kerumah mbah di Cijantung, ibu slalu wanti2 agar jangan panggil "ibu" didepan orang2. 
Aku diam saja tak membantah. 
Yah daripada tidak diajak pergi, pikirku.
Cuma kadang2 ibu suka kebablasan kl sdh ngobrol dengan siapapun, sehingga suka terlewati tempat yg dituju. 
Aku sengaja teriak keras2 sehingga 1 oplet dengar semua.
" Ibuuu...jadi gak turun disini. Katanya tadi mau turun disini?!" 
He he padahal tanpa berteriakpun ibu pasti dengar lha oplet kan kecil.
Tak ayal begitu turun tanganku dicubit sampai biru2 dan kobes / bocel oleh kuku ibu yg panjang terawat.
Kadang Dear Diary, kl aku lihat ibu digoda oleh laki2 lain aku sengaja bertanya keras2 "ibuuu...busnya masih lama gak sih? Ida sudah pegel nih ?!"  
Sebetulnya bukan salah ibuku sih kl setiap jalan ibu kerap digoda laki2. 
Badan ibuku memang kecil dan  langsing, wajahnya juga manis banget. 
Siapa yg  sangka ibu sdh punya anak 4 ( saat kejadian ibu baru punya anak 4, anak pertama dengan ayah tiriku). 
Karena seringnya aku sabotase ibu, lama2 ibu malas mengajakku pergi, dan lebih suka mengajak adikku yg lain. 
Aku diajak pergi kl barang bawaan ibu banyak. 
Cuma itu fungsiku kl bepergian, untuk bawa tas atau koper.


Dear Diary 
Ibu beda dengan bapakku. 
Kalau bapak malah dengan bangga memperkenalkan aku keteman2nya, aku curiga, mungkin kr bapakku senang mendengar komentar teman2nya " wah mirip banget sama bapaknya ya? Nanti kl sdh besar jd anak pintar ya spt bapaknya" Kalau sudah gitu bapak dengan bangga sambil mengacak acak rambutku bilang " tuh kan. Semua orang bilang Ida mirip bapak. Nanti kl sdh besar jd dokter ya? Kan Ida pintar kayak bapak?" 
Aku pun manggut2 kesenangan dibilang pintar dan mirip bapak.
Siapa yang tidak bangga soalnya bapakku ganteng, yah kira2 mirip aktor Ferry Salim wajahnya.
Tinggi besar, ganteng dan bermata sipit. Kalau aktor Korea aku pikir bapak mirip banget dengan aktor Kim Sung Soo.
Kalau bapak punya uang, yg dituju pertama kali adalah restoran untuk makan, bapak memang hobbby makan, sama sepertiku. 
Bapak tidak pernah melarangku untuk makan apapun. Sementara kalau ibuku punya uang maka yg pertama kali dibeli adalah emas2an. 
Ibu bilang itu investasi, sebab ibu tidak tahu kapan kami kekurangan uang. 
Kl ibu lihat aku makan banyak ibu slalu komentarnya "makan jangan banyak2. Mau badanmu nanti segede  kebo?".
Pernah aku oleh ibu disuruh cuci cobek untuk membuat sambal, kr malas maka aku cuci cobek pakai kaki. 
Kebetulan ibu melihatnya. 
Kembali aku dicakar ibu. 
Secara reflek kutarik tangan kananku yg dicakar ibu. Akibatnya sepanjang lengan kananku terdapat 3 luka goresan yg dalam bekas kuku ibu. ( syukurlah sekarang lukanya sudah tak kelihatan. Begitu aku mampu, kuikuti saran suamiku si semprul, aku ke dokter ahli kulit dan kosmetik di Semarang untuk menghilangkan bekas luka itu ). 


Dear Diary,
Saat itu aku gemetaran melihat daging  bercampur darah diujung kuku ibu. 
Gara2 kejadian itu pupus sudah cita2ku menjadi dokter, kr ternyata aku takut melihat darah. 


Dear Diary
Bukan aku memuji bapak. 
Bapak tak pernah menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 
Buat bapak aku adalah sang putri. 
Rasanya itu yg membuat  semua ibu tiri dan mbah tiriku membenciku, mereka menganggap bapak terlalu memanjakan aku.


Dear Diary
Setelah bapak dan ibu bercerai, setiap kali melihat aku dan adik2ku, bapak akan bernyanyi, seolah olah bapak bahagia wl hidup tanpa ibu. 
Biasanya bapak menyanyikan lagu Besame mucho, Jangan ditanya kemana aku pergi, Walk a way, atau Changing Partner. 
Itu itu saja lagu bapak.
Aku tahu itu lagu kebangsaan bapak dan ibu saat masih bersama. 
Seringkali kudengar mereka bersama menyanyikan lagu2 itu dg suara yg serasi saat kami masih kumpul  bersama.  

Sementara  setelah bercerai, sikap ibu malah spt melihat hantu kadang2 melihat iblis apabila melihatku. 
Saat sedang bengong kadang2 ibu tiba2 menamparku dan berteriak teriak menyuruhku pergi dan mengusirku dr rumah kr wajahku sangat mirip bapak. 
Kalau ibu sedang marah kr 1 hal biasanya aku cuma diam dikamar tak mau memperlihatkan wajahku yg mirip bapak. 
Aku tahu ibu tak membenciku. 
Ibu cuma benci bapak. 
Aku tahu itu, tapi tetap saja rasanya sakit sekali tidak diinginkan ibu hanya krn wajahku mirip bapak.


Dear Diary
Sejak ibu memperlakukan aku spt itu, aku sudah memaafkan ibu. 
Aku cuma menghindar dan berdoa agar ibu lupa dan tidak benci bapak lagi. 
Bagaimanapun aku tetap bersyukur, tanpa ikut ibu aku tidak akan menjalani kerasnya hidup. 
Aku tak akan bisa bersekolah, apalagi kuliah.
Perbedaan sikap ibu dan bapak membuat aku menentukan pilihan Dear Diary , aku lebih meniru bapak dalam menjalani keseharianku. 
Jadi, Inilah aku. 
Kalau tidak suka aku akan pergi dan menghindar, tidak perlu berpura2 suka. 
Apa adanya saja. 
Karena aku mirip bapak.
Sejujurnya Dear Diary, aku bangga mirip bapakku.

Komentar

Postingan Populer