Gosong lagi, gosong lagi....
Dear Diary
Hari ini aku ingin berhemat, aku ingin makan masakanku sendiri.
Aku masak bihun goreng, telor barendo, tempe goreng, dan sambal tomat.
Pas masak bihun goreng oke, aku selamat, rasanya pas dilidahku, entah dilidah yang lain, apa pesuliku, toh aku masak buatku sendiri.
Sambal tomat oke, kare a aku pecinta sambal pasti bisalah bikin sambal.
Sayangnya saat masak tempe goreng ...tempe gorengku gosong, dari 10 potong hanya 5 yang "tidak cukup gosong".
Saat maska telor barendo ala masakan Minang, bahkan tebih gawat lagi, hampir sewarna kulit panci tetangga.
Dear Diary
Seharus saat masak tempe goreng itu aku harus fokus, jangan terkenang masa lalu.
Tempe itu makanan kegemaran si semprul, mantan suamiku, juga kegemaran si play boy karatan, mantan suamiku juga.
Tanpa tempe mereka selalu tanya " tempenya mana bu?" si semprul biasa tanya seperti itu.
"Kok gak ada tempenya honey?" si play boy biasa tanyanya seperti itu.
Dear Diary
Tempe gosong, kerupuk goaing atau masakan lain entah kenapa "biasanya" selalu gosong.
Barusan terakhir niat masak telor barendo malah jadi kutukan telor barendo karena gosong juga.
Apakah ini karena kualat dear diary?
Dulu aku selalu menolak membantu ibu memasak.
Entah berapa kali aku dicakar, dicubit, dijewer atau diketok sapu kalau masakanku gosong.
Aku tidak pernah disuruh masak lagi setelah aku curhat pada ibu saat keadaan sedang damai.
"Bu ..kayaknya Ida gak bakal bisa masak. Kalau ibu tetap suruh Ida sayang bahan2nya bu jadi sia sia, padahal kan kita orang miskin." kataku.
"Nanti kalau kowe kawin gimana gak bisa masak?" tanya ibuku.
"Kan Ida bisa beli diluar." jawabku.
"Kalau kowe punya duit bisa beli diluar, kalau gak punya duit gimana?" Ibu tetap ngeyel sesuai kodratnya sebagai diktator rumah tangga.
"Ya punya duitlah bu, Ida kan mau jadi orang kaya. Percuma Ida kuliah. Nanti juga Ida harus punya suami orang kaya." kataku sombong.
Ibu langsung mendoakanku tidak sepenuh hati, lebih ke arah meledek.
Aku tidak peduli, yang penting tidak disuruh masak lagi.
Dear Diary
Sekarang, disinilah aku.
Menatap tempe dan telorku yang gosong.
" Pak Didin sudah makan belum? Temanin saya makan yuk, ini ada tempe dan telor tapi warnanya agak gelap seperti Teguh, tapi enak kok. Telor bagi 2 ya...kalau tempe ambil semua saja."kataku lemah lembut. Aku memang lemah lembut kok Dear Diary, kecuali kalau sedang marah.
Pak Didin tentu saja menolak.
"Gak usah bu saya makan didapur kos saja, gak enak kalau ada yang lihat nanti jadi fitnah bu."
Anjrit. Biar bagaimanapun ada hil hil yang mustahal.
He is not my taste.
I am the master and you just my servant.
Mungkin ini saatnya aku tidak menjadi wanita baik hati dan tidak sombong lagi Dear Diary.
Komentar
Posting Komentar