SELAMAT ULANG TAHUN ANAKKU:
Anakku, 37 tahun yang lalu, 4 Oktober 1988, hari selasa pagi jam 08.15, kau, anakku lanang satu2nya lahir setelah 2 hari 2 malam ibu berjuang mati2an mengalami kontraksi sakit perut.
Pernah serasa kau akan segera lahir, tapi saat kudengar teriakan2 kesakitan dari ibu2 lainnya, tiba2 saja sakit perut ibu menghilang karena takut.
Rasanya seperti menunggu algojo kematian.
Kau lahir setelah ibu kehabisan tenaga untuk mengedan, mendorong dan berteriak2.
Ibu ingat disela2 nafas yg ngos2an, ibu meminta sang dokter, Dr. Nadir Chan untuk menyerah.
"Dioperasi caesar saja dok, saya gak kuat lagi".
"Jangan menyerah nyonya. Ayo nyonya harus kuat. Operasi Caesar itu jalan terakhir. Ini kepalanya sudah nongol kok" sang dokter bersemangat membesarkan hatiku.
Kalau akhirnya ibu menyerah dan divacuum bayinya agar keluar, itu setelah ibu dan sang dokter kehabisan nafas bersimbah peluh.
Anakku, kau lahir dengan kepala seolah olah memakai topi bundar karena divacuum.
Begitulah caramu lahir nak.
Penuh sakit, teriakan2, darah dan air mata putus asa karena tak kunjung lahir.
Jangan bayangkan seperti saat ini nak, kelahiran bisa dimintakan dengan operasi, ditentukan hari dan jam nya.
Bahkan saat2 kehabisan nafaspun, dokter2 jaman dahulu tetap memilih persalinan normal, paling berat ya di vacuum.
Operasi caesar itu tindakan terakhir.
Kau hadir saat cinta ibu dan bapakmu masih menggelora, berjuang bersama2 mencari sesuap nasi, masih saling setia dan penuh kebahagiaan.
Hadirmu membuat ibu bahagia nak.
Lucu, ganteng, tinggi dan putih walau tidak pandai ibu kira saat itu.
Kalau ternyata akhirnya kau bisa menjadi juara matematik se Jakarta Pusat saat di SMPN 1 Cikini, itu adalah kejutan buat ibu, karena kau malas belajar.
Disela2 buku pelajaran kau selalu menyelipkan komik detektif Conan dan pura2 belajar serius.
Masih ibu ingat saat kau masih TK, berdiri berpegang pada tiang sekolah, tak bergerak2. Ternyata kau buang air besar dicelana.
Untukmu anakku, tak ada istilah jijik.
Saat kau terkena flu diusia bulanan, ibu setiap saat menyedot ingus dari lubang hidungmu memakai mulut ibu.
Saat kau berusia 3 bulan dan mata kirimu selalu keluar kotoran mata membuat matamu tak melihat sempurna, setiap bangun tidur selalu ibu jilati dengan air ludah ibu, dengan lidah ibu. Mana pernah ibu rasa asinnya kotoran matamu, dan jijiknya bila tertelan.
Ibu hanya ingin matamu normal.
3 bulan lamanya berkotor2 menjilati mata kotormu ternyata bisa membuahkan hasil. Matamu bisa melihat lagi.
Tak perlu ada operasi pada saluran air mata lagi.
Bahagianya ibu nak.
Sekarang, bisakah kau bayangkan beratnya perjuangan ibu melawan rasa jijik nak?
Kau tahu bukan, ibu benci kedapur, benci melihat kotoran bekas makanan, tapi ibu mampu menjilati kotoran dari mata dan hidung mancungmu.
Aneh bukan?
Anakku, pernah puting susu ibu hampir putus saat menyusuimu dulu.
Rupanya kau tidak sabaran saat menghisapnya krn tidak ada susu yg keluar.
Berhari2 ibu kesakitan setiap memakai BH atau bila tersentuh apapun.
Tapi saat sudah sembuh, tak jera ibu menyusuimu kembali, walau harus berderai air mata kr sakit digigiti.
Untukmu, ibu tak pernah jera nak.
Maafkan ibu bila terkadang emosi bila didebat.
Ibu memang berlebihan dalam bersikap.
Bertarung nyawa melahirkanmu, mengurusimu saat kecil, membuat ibu merasa berhak menentukan segalanya untukmu.
Benar bila Khalil Gibran sang penyair bilang "anakmu bukanlah anakmu, dia adalah anak kehidupan".
Kau bukanlah anakku, walau anakku.
Terima kasih sudah menjadi anak ibu, anak lanang ibu.
Apapun yang terjadi, ibu tetap bangga memilikimu.
Maafkan ibu yang tak sempurna ini.
SELAMAT ULANG TAHUN ANAK LANANGKU, CUKUP JALANI HIDUP DENGAN BAIK AGAR IBU BAHAGIA NAK, KARENA HIDUP BAHAGIA ADALAH PILIHAN.
Komentar
Posting Komentar